Cerita Sex Dewasa – Aku sangat kagum saat pertama kali bertemu dengannya. Dari etika bicara dan sikapnya, aku tahu dia baru lulus SMA, usianya 18 tahun. Namanya Clara, cantik dan seindah orangnya. Waktu itu aku sudah menikah dengan kakak sepupunya, dan kami dikaruniai seorang putra. Dua tahun kemudian, Clara datang ke kotaku dan minta dicarikan kos dekat kampus. Aku dan istriku jadi repot, harus mengantarkannya daftar dan tes. Selama membantu, Clara sering mencuri pandang ke arahku dengan tatapan nakal. Aku pura-pura tak tahu, tapi hatiku terkejut karena tatapannya membuat jantungku berdebar. Aku berandai-andai ingin sekali melakukan sesuatu dengannya. Padahal, batinku melarang keras, aku takut tidak bisa mengendalikan diri. Suatu hari, Clara datang ke rumah, mau menginap karena besoknya libur. Hatiku gelisah, ingin melakukan sesuatu. Rasanya magma di dalam diriku mau meledak, tapi batinku terus melarang, “Tidak pantas! Dia sepupu istriku!” “Kak, tolongin aku dong!” katanya dengan pandangan menusuk, membuat jantungku mau copot. “Jika Kakak tidak menolak, aku minta diajarin nyetir motor,” katanya dengan mata genit. Belum pernah ada wanita menawariku hal seperti ini. Kamu telah menyentuh sisi rapuh dalam hatiku. Aku mengangguk sambil mencengkeram wajahnya. “Mengapa memilih Kakak? Kenapa tidak pacarmu atau temanmu?” tanyaku. “Aku sudah memilih Kakak,” jawabnya manja. Aku pun mulai menggodanya, “Memilih Kakak?” Dia mengangguk lugu, tapi makin memesona. “Kalau begitu, jangan protes ya. Kamu aku terima jadi murid. Sederhana kan?” kataku. “Kakak akan menyesal jika melewatkan kesempatan ini, karena aku mau Kakak jadi yang paling berjasa menumbuhkan dan menyemaikan bakatku ini,” candanya. Tawanya meledak, matanya menyipit, pipinya memerah. “Kapan, Kak, belajarnya?” tanyanya. “Sekarang,” jawabku. Kami pamit pada istriku, lalu aku mengeluarkan motor bebek dan mencari jalan sepi. Aku duduk di depan dan dia di belakangku. Sesampai di jalan sepi, aku turun, memberinya beberapa petunjuk, dan mempersilakan dia duduk di depan. Beberapa menit kemudian, motor mulai berjalan pelan dan bergoyang-goyang hingga hampir jatuh. Terpaksa aku membantunya memegang motor, badannya sangat indah, jauh lebih indah dari yang kubayangkan. Lehernya putih, dadanya, dan pantatnya… ah! Setelah aku bantu pegang setang, motor mulai stabil. Aku dapat berkonsentrasi dan merasakan sentuhan tangannya. Kuusap tangannya, mengarahkannya, dia tidak bereaksi, mungkin karena fokus dengan jalan. Kemudian aku merapatkan dudukku ke depan sehingga kontolku menempel di punggungnya. Hidungku kudekatkan ke belakang telinganya, tercium bau wangi. Aku mulai tegang, kontolku tegak di balik celana dalam. Karena dia sudah mulai menguasai motor, kutawarkan dia untuk latihan sendiri, dan aku menunggu di warung saja. Tapi dia tidak mau, ia ingin aku tetap duduk di belakang. Aku khawatir, kalau begini terus bahaya. Imanku kuat, tapi kontolku tidak mau diajak kompromi. Akhirnya timbul ide iseng. Aku pura-pura menjelaskan sesuatu dan merapatkan badanku sampai kontolku menempel di punggungnya. Dia pasti merasakan kontolku yang tegak, tapi dia diam saja. Kubisikkan di telinganya, “Clara, kamu cantik sekali!” suaraku bergetar. Dia tidak bereaksi. Lalu aku letakkan kedua tanganku di kedua pahanya. Dia tetap diam saja. Aku memberanikan diri mengusap pahanya yang terbuka karena dia memakai celana pendek. “Aduh, Kakak nakal! Nanti dimarahi Kakak Istri, lho, kalau ketahuan!” katanya manja. “Kalau Clara tidak cerita, ya… tidak ada yang tahu! Memangnya Clara mau cerita sama Kakak Istri?” tanyaku. “Ya… tidak sih,” jawabnya. “Kalau begitu, kamu baik deh,” kataku. Karena mendapat lampu hijau, aku makin berani. Aku katakan bahwa payudaranya bagus bentuknya, lebih bagus dari punya Kakak Istri. Dia tampak senang. “Kakak ingin sekali menyentuhnya, boleh tidak?” kataku meluncur begitu saja. “Ah, Kakak nakal,” katanya manja. Aku semakin nekat saja, sebab dari jawabannya aku yakin dia tidak keberatan. Tanganku perlahan mulai menyentuh dan memegang penuh dengan telapak tangan. Wah, rasanya keras sekali. Kucoba meremasnya dan dia sedikit terkejut. Aku tidak dapat memegang lama-lama karena harus berbagi konsentrasi dengan jalan. Yang jelas kontolku semakin berdenyut-denyut. Aku tersentak, dia mengerem motor dengan cepat untuk menghindari lubang. Tubuhku menekan tubuhnya hingga membuat kesadaranku pulih. Akhirnya aku memutuskan untuk mengajaknya pulang. Aku sempat melihat kekecewaan di matanya, tapi mau bagaimana lagi, ini jalan terbaik agar aku tidak terjebak pada posisi yang sulit nantinya. Besok paginya, waktu aku mau berangkat kerja, istriku memintaku mengantar Clara dulu ke kosnya. Tentu saja jantungku berdebar-debar lagi. Tidak lama kemudian Clara mendekat. “Kak, antarin aku dulu dong? Aku ada kuliah pagi, nih! Teman kosku tidak jadi jemput,” katanya. “Ayo!” ajakku sambil masuk ke dalam mobil. “Aku mau mandi dulu, ya, Kak!” katanya. “Tidak usah, nanti keburu macet di jalan, mandinya nanti saja di kos,” jawabku. Dalam hatiku, aku sudah berjanji harus bisa mengendalikan diri. Selama perjalanan, aku banyak diam. Akhirnya dia mulai membuka pembicaraan. “Kak, kok diam saja? Marah ya? Mau antarin aku pulang?” katanya. “Kakak lagi kurang enak badan saja,” jawabku sekenanya. Setelah sampai di depan kosannya, dia minta aku ikut masuk, mengambil mainan yang sudah dibelinya untuk anakku. Mulanya aku menolak. Tapi karena dia mau buru-buru berangkat kuliah dan belum mandi, sedangkan kamarnya di lantai 3, aku jadi kasihan. Akhirnya aku mengikutinya dari belakang. Aku sempat heran, “Kok sepi sekali?” Ternyata kata Clara, semua sudah berangkat kuliah. Aku menunggu di kamarnya, sementara dia mandi. Setelah selesai, dia masuk kamar, kelihatan segar. “Lho, kok tidak ganti pakaian?” tanyaku. “Tadi dikasih tahu teman kalau dosennya tidak masuk, jadi aku tidak perlu buru-buru lagi,” katanya. Sementara aku duduk di tempat tidurnya, dia mengambil mainan yang akan diberikan pada anakku. “Ini, Kak,” katanya sambil duduk di sampingku. “Wah, bagus sekali. Terima kasih, ya!” kataku. Saat aku ingin berpamitan keluar, pandangan kami beradu. Hati ini kembali berdebar-debar, pandangan matanya benar-benar meluluhlantakkan imanku. Aku tidak jadi berdiri. Kupegang tangannya, kuusap dengan penuh perasaan. Dia diam saja. Kemudian kupegang pundaknya, kubelai. “Clara, kamu cantik sekali,” kataku dengan suara bergetar. Tapi dia diam saja dengan muka menunduk. Aku meletakkan tanganku di pundaknya. Karena dia diam saja, aku jadi berani. Kucium di belakang telinganya dengan lembut. Sepertinya dia mulai terangsang. Dengan perlahan, tubuh Clara aku bimbing, kuangkat agar berada dalam pangkuanku. Kontolku semakin menegang. Tanganku dapat mengangkat kausnya ke arah payudaranya. Aku merasa napasnya sudah seperti napasku juga. Aku semakin nekat. Tanganku kumasukkan ke dalam kausnya dari bawah. Perlahan naik ke atas mendekati payudaranya, dan ketika sudah sampai di pinggirannya yang masih tertutup beha, kuusap bagian bawahnya dengan penuh perasaan. Lanjut bab dua: Si Cantik Sepupu Istriku Yang Menggairahkan CHAPTER DUA Dia menggelinjang dan menoleh ke arahku dengan mulut terbuka sedikit. Aku jadi tidak tahan lagi. Kutundukkan muka dan mendekatkan bibirku ke bibirnya. Saat berciuman, aku merasakan sangat hangat, kenyal, dan basah. Aku pun melumatnya dengan perasaan sayang, dan dia membalas ciumanku. Perlahan lidahku mulai menjulur menjelajahi ke dalam mulut dan mengait-ngaitkan lidahnya, membuat napas kami terus memburu. Tanganku pun tidak tinggal diam, kusingkapkan behanya ke atas, sehingga aku dapat bebas memegang payudaranya. Payudaranya bulat dengan puting yang tegak bergetar seperti menantangku. Kuusap dan kuremas, dia mulai merintih. Kemudian Clara kurebahkan di kasur. Kulepas kaus dan behanya sehingga tampak pemandangan yang menakjubkan. Dua buah gundukan yang berdiri tegak. Kupandangi badannya yang setengah telanjang. Lalu mulutku perlahan kudekatkan ke bagian dada, dan ketika mulutku menyentuh payudaranya, dia merintih lebih keras. Nafsuku semakin naik. Kuciumi susunya tak sabar. Putingnya kukulum dengan lidahku, kuputar-putar, dan susunya yang sebelah kuremas dengan tanganku. “Aduhh… Ahh… Ah,” dia semakin mengerang, dan dengan gemas putingnya kugigit-gigit sedikit. Badannya menggelinjang membuatku semakin bernafsu untuk terus mencumbuinya. Sekarang kami mulai beroperasi di bagian bawah. Kubuka celana pendeknya hingga sekarang dia hanya mengenakan celana dalam saja. Sepertinya celana dalamnya sudah basah. Akhirnya kulepas semua, sehingga tampak vaginanya yang masih kencang dan rambut yang tidak banyak, membuatku semakin tegang. Kubersihkan vaginanya dengan bekas celana dalamnya. Kemudian kupandangi dan kuusap-usap. Dia tampak sangat menikmati sekali, dan saat jariku menyentuh klitorisnya, dia menggelinjang dengan keras. Sementara klitorisnya kuusap dengan jariku, dia semakin menggeliat. Pada saat itu aku ingin sekali mencium vaginanya, karena sudah terangsang sekali. Saat aku mau menunduk, dia langsung merapatkan kedua pahanya dan punggungnya tegang. Tubuhnya tersentak-sentak selama beberapa saat. “Aahhkk… Oohh… Kak, aahh!” Akhirnya dia diam beberapa saat, kubiarkan saja. Dia baru saja merasakan orgasme. Tubuhnya terkulai lemas, aku jadi kasihan. Kontolku juga ikut-ikutan lemas. Dengan penuh kasih sayang, aku menghampirinya, duduk di pembaringan sejajar dengan payudaranya. Tubuhnya kututupi dengan selimut. Kubelai dan kucium keningnya, tampaknya dia senang denganku. Baru saja aku mau berdiri, tangannya meraihku. Aku duduk lagi. Tahu-tahu dia sudah ada di atas pahaku. “Kak, baru kali ini aku merasakan yang luar biasa enaknya, sebab aku belum pernah disentuh oleh laki-laki. Jadi Kakak adalah orang pertama yang menyentuhku, tapi aku senang kok, Kak. Tadi aku merasakan enaknya sampai tiga kali, Kak. Aku sangat puas!” Dalam hatiku bertanya mengapa bisa sampai 3 kali, padahal aku kira cuma sekali. Pantas dia langsung KO. Mungkin karena dia tidak pernah dijamah laki-laki, jadi tubuhnya sangat sensitif. “Kok diam saja, Kak? Apa Kakak juga sudah puas?” tanyanya. “Clara, kamu tidak usah pikirin Kakak. Yang penting kamu sudah dapat merasakan enaknya orang bercumbu yang seharusnya belum kamu rasakan. Sekarang Kakak mau berangkat kerja dulu, oke!” kataku. “Kak, gimana caranya biar Kakak juga bisa merasakan enak?” katanya dengan lugu. Tangannya yang masih di atas pahaku tahu-tahu sudah melepas sabuk dan membuka celanaku. “Biar aku juga bisa pegang punya Kakak seperti tadi Kakak pegang punyaku. Tadi waktu Kakak pegang memekku dan mengusap-usap, aku mendapat kenikmatan luar biasa. Berarti kalau punya Kakak aku pegang dan diusap-usap, pasti Kakak juga merasa enak,” katanya sok tahu. Sekarang celana dalamku sudah terlihat dan dia mulai memegang dan meremasnya dari luar. Kontolku jadi tegak dan menyembul keluar. Dia terkejut dan kagum, “Wah… besar sekali.” Kalau sudah begini, aku jadi lupa lagi dengan diriku. Aku menurunkan celana dalamku agar dia dapat dengan leluasa memainkannya. Kontolku yang sudah sangat tegak digenggamnya dan diremasnya. “Ahhh… Clara, enaaak!” dia tambah bersemangat. Jari-jarinya mengusap-usap kepala kontolku. “Clara, teruskan, sayang…” kataku dengan gairah yang semakin menjadi-jadi. Aku merasa kontolku sudah keras sekali. Dia meremas dan mengurut kontolku semakin cepat. “Clara!” seruku. “Kakak akan terasa lebih enak kalau kamu mau hisap!” Kemudian aku pindahkan kepalanya ke paha, susunya menempel di punggungku. Aku ajari dia. Mulanya kusuruh cium batangnya, lalu kusuruh jilati dengan lidahnya. Aku merasakan sesuatu yang lain yang tidak kualami dengan istriku. Mungkin karena dia masih perawan, lugu, dan tubuhnya belum pernah dijamah laki-laki. Kurasakan dia juga menikmati dan mulai terangsang. Karena posisi kami kurang bebas, aku memandu dia bangun dari kasur dan duduk di lantai, sementara aku tetap duduk di kasur, sehingga mukanya pas di depan selangkanganku. Kini dengan leluasa dia dapat melihat kontolku yang semakin keras. Kontolku tidak berkedip, dan tampaknya terus membuat nafsunya memuncak. Mulutnya perlahan mulai didekatkan ke arah kontolku dan menyadari keberadaan kepalaku. Dia memegang pangkal kontolku. Mulutnya mulai ditempelkan pada kontolku dan lidahnya kusuruh menjilati ujungnya. Dan aku mulai menyuruhnya untuk dikulum di mulut. Mulutnya mulai membuka agak lebar dan bagian ujungnya mulai dikulum. Aku semakin bergairah. “Clara… enak! Terus sayang, masukan terus lebih dalam lagi… nah… begitu sayang.” Rambutnya kuusap-usap dan pelan-pelan kutarik kemudian kudorong lagi ke arah pantatku. Dia tahu maksudku. Dia maju mundurkan kontolku di dalam mulut. Aku merasa sudah tidak tahan, apalagi sewaktu dia melakukannya dengan cepat. Ketika aku merasa spermaku mau keluar, perlahan kutahan gerakan kepalanya. Maksudku mau menarik keluar dari mulutnya. Tetapi malah sebaliknya, dia melawan gerakanku, dengan memegangnya lebih kuat dan mendukung gerakannya. Akhirnya aku tidak dapat menahan lebih lama lagi… “Aahh, aahh, aahh…!” Spermaku keluar di dalam mulutnya dengan rasa nikmat luar biasa dan badanku sampai tersentak-sentak. Kemudian kontolku kutarik dari mulutnya. Aku melihat di mulutnya belepotan dengan spermaku. Kuangkat dia dan kududukkan di pahaku. Tangan kiriku menopang kepalanya, tangan kanan membersihkan. “Kamu pintar sekali, Kakak mendapatkan kenikmatan yang luar biasa,” kataku berbisik. “Clara… juga Kak, sekarang aku merasakan tulang-tulangku seperti lepas!” Kemudian kuangkat tubuhnya yang masih telanjang, kurebahkan di pembaringan. Aku sendiri merapikan pakaian dan langsung pamit pulang. Setelah kejadian tersebut aku sangat menyesal, tapi lagi-lagi terlambat. Tapi hati mengatakan tidak ada yang terlambat, lebih baik dari tidak sama sekali. Aku kembali berjanji dalam hatiku, “Cukup sampai di sini.”

Si Cantik Sepupu Istriku Yang Menggairahkan

773 views 1 bulan lalu

Masuk Si Cantik Sepupu Istriku Yang Menggairahkan no cost di Bokepbagus Mirror. Hub baca live terpercaya dengan bandwidth gede.

Lihat juga: Cerita Pesta Seks Yang Muncul Dari Ide Gila Sang Pengusaha Muda, Gairah Tante Kandung Perawan Tua Agen Jamu Crot, Si Cantik Sepupu Istriku Yang Menggairahkan.

Baca cerita lengkap gratis di Bokepbagus Mirror.

Simpan Konten

Simpan untuk ditonton nanti dengan klik tombol bookmark.